JANJI TUHAN
Mengapa
janji harus ditepati, ya karena janji adalah hutang dan setiap yang berhutang
wajib untuk membayar. Uang dibayar uang, tenaga di bayar tenaga, begitu pula
dengan nyawa harus dibayar nyawa. Ahsan telah berjanji untuk memberikan
istrinya jika ia tak dapat membayar semua hutangnya. Walau dengan perasaan
ragu, ahsan yakin dapat menyelamatkan istrinya dari perjanjian tersebut.
“ayah
aku mau berangkat sekolah” kata syahida putri satu-satunya. “iya nak, ayah
boleh minta tolong ?” jawab ahsan. “ayah mau apa, pasti syahida turuti”
jawabnya dengan penuh keceriaan. “ayah mau minta tolong ya syahida ayah kasih
uangRp 30.000 untuk satu minggu sanggup ?” tuturnya kembali. “mana bisa ayah,
belum ongkos ojek sama jajan syahida” jawabnya dengan wajah cemberut. “tadi
syahida janji mau lakuin apa aja buat ayah” jawabnya kembali. “yaudah syahida
mau, tapi kalau syahida ga sanggu jangan dilanjutin ya ayah” pintanya. “syahida
pasti sanggup” jawab nya kembali.Ahsan hanya ingin mengatur keuangan yang
semakin menipis, dia memberikan pengertian terhadap anaknya dengan melatih
putri cantinya itu untuk menggunakan uang hanya untuk yang penting saja.
Pagi
minggu yang cerah, mereka berlibur untuk menyenangkan hati syahida. Namun ahsan
tak lupa memberi uang jajan untuk satu minggu kedepan. Saat mereka sedang
menikmati liburan tiba-tiba dikagetkan dengan datangnya seorang kakek tua renta
yang menghampiri mereka sambil memelas, tak tega melihat kakek tua yang
memelas, syahida langsung saja mengeluarkan uang Rp. 30.000 dan memberikan
kepada kakek tua tersebut. Kontan saja kakek pengemis tersebut terlihat sangat
senang seraya mengucapkan syukur dan terimakasih kepada syahida dan ayah
bundanya, setelah kakek tua itu berlalu, “kenapa kamu berikan semua uangmu
untuk kakek itu, satu lembar saja kan cukup untuk memenuhi kebutuhannya hingga
nanti malam ?” tanya bundanya yang cantik jelita bernama meera. “bunda, kalau
kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit, maka aku juga ikhlas untuk memberikan
yang lebih besar” jawab syahida dengan tersenyum. TEKK !! Hati sang ayah
langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut. “nah ! terus uang jajan
syahida untuk seminggu kedepan bagaimana?” tanya ahsan. “kan aku masih punya
ayah dan bunda, tidak seperti kakek tadi yang mungkin hanya sebatangkara” balas
syahida. “loh syahida yakin banget kalau ayah bunda mau mengganti uang
jajannya, ayah gak janji lo” jawab ahsan dengan kembali menguji anaknya. “ayah
bunda pernah bilang kalau syahida titipan Allah, maka aku yakin ayah bunda tak
akan pernah membiarkan aku kelaparan seperti kakek tadi” sahutnya sambil
tersenyum. Seakan ayah dan bundanya tersentak mendengar jawaban syahida mereka
tak dapat berkata-kata. Lalu ahsan berjongkok dan memegang kedua pundak syahida
“sayang, ayah bunda janji akan selalu menjaga merawatmu hingga Allah ta’ala tetapkan
batas umur ini. Ayah bunda sangat menyayangi syahida lebih dari apa pun yang
ada didunia” sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah-olah tak kuat menahan
haru. “ayah gak perlu bilang begitu, sejak dulu syahida tau ayah bunda sangat
sayang syahida. Mulai sekarang hingga ayah bunda menua nanti syahida gak akan
biarkan ayah bunda hidup dijalanan seperti kakek tadi” jawabnya sambil menangis
tak henti. Mendengar itu ahsan dan meera tak terbendung menahan air mata.
***
Tiba-tiba
terdengar dering telpon yang berada di atas mejanya, “ayah, bunda mimisan nih”
terdengar suara yang tak asing lagi baginya, ya suara meera mengeluh. “mungkin
karena cuaca yang sangat terik ini bun, jadi kesehatan bunda terganggu. Coba
bunda istirahat dulu sebentar lagi ayah pulang” sahut ahsan menenangkan meera
dan dia sarankan untuk segera ke dokter.
Beberapa
hari kemudian istrinya sakit pilek. Seperti biasa jika sakit ia hanya meminim
obat warung dan jarang sekali mau periksa ke dokter. “oalah bunda kedokter aja
kok takut” ledeknya. “bunda Cuma gak suka, sudah di suntik malah dikasih obat
lagi” jawabnya memelas. Dua minggu berselang tapi pileknya belum juga hilang, malah
meera mengadu ada yang terasa menyumbat disaluran hidungnya, rasanya tak nyaman
dan susah bernafas. “bun, besok kita kerumah sakit ya, biar ayah izin masuk
siang” pinta ahsan sambil memeluknya. Meera pun menurut permintaan suaminya.
Lagi pula ia juga takut kalau penyakit ini sangat mempengaruhi kesehatannya
kedepan.
Keesokan harinya ahsan mengajak
meera ke rumah sakit, saat itu dokter mengatakan istrinyaalergi pada debu dan
juga bulu-bulu binatang. Setelah diperiksa dan dibri obat ahsan dan meera pun
pulang untuk menemui syahida yang sejak tadi sendiri dirumah.
Sampai
obat pemberian dokter pun habis namun pileknya belum juga ada tanda-tanda
kesembuhan. Anehnya yang sering keluar lendir hanya hidung sebelah kiri saja,
bahkan meera sekarang susah bernafas melalui hidung, ia hanyabisa bernafas
melalui mulut, dan ketika ahsan membawanya kembali kerumah sakit, dokter
menyarankan untuk rontgen. Namun dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan
apapun dihidung istrinya.
***
Terlihat
diujung jalan, dua lelaki yang tak asing dimamta ahsan. Ya itu dio dan rabe,
sahabat ? teman ? bukan. “hahaha bagaimana ahsan ? sudah siap, tersisa tiga
bulan” tutur dio. “aku akan bayar dengan uang, bukan dengan istriku” jawab
ahsan dengan penuh emosi. “baguslah, tapi aku tidak yakin” kembali rabe menjawab
sambil dengan tatapan tajam. Setelah itu
mereka berlalu dan ahsan pun bergegas pulang memastikan bahwa anak istrinya
tidak terjadi apa-apa.
“ayah
hari ini kita harus kontrol keadaanku lagi” tutur istrinya. “iya bun, sebentar
lagi kita bersiap” sahut ahsan. “ayah bunda, syahida ikut” tutur syahida sambil
memelas. “iya sayang” sahut meera. Mereka pun bergeges, sesampainya di rumah
sakit dokterpun memeriksa. Setelah beberapa jam dokter pun keluar dari ruang
prakteknya dan memebawa foto CT scan. Dokter menunjukan hasilnya, nampak ada
sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokan meera. “ini positif bu”
tutur dokter. “maksudnya dok” jawab meera yang tak mengerti medis. “ibu positif
kanker” sahut dokter . DEK!! Tiba-tiba mata meera menjadi gelap, sebuah beban
berat terasa menindih badannya. Meera terdiam dan tak bisa berkata apa-apa,
lama meera terdiam. Raut wajah ahsan pun berubah seketika. “kanker” sebuah kata
terlintas dibenak meera, kata yang selama ini hanya dikenalnya lewat informasi
sosial media. “ayah kenapa menangis” tanya meera. “iya, ayah sayaaaang bunda”
suara ahsan bergetar. Ahsan mengusap lembut kepala istrinya, ditepisnya
perlahan tangan meera yang mencoba untuk menusap air matanya. “kenapa wajah
bunda tenang, apa bunda sudah tau penyakit ini” tanya ahsan sambil menangis.
“ini janji bunda kepada tuhan ayah “ jawabnya dengan tenang.
***
Ahsan
semakin bekerja keras dan semua tak sia-sia, dia dapat membayar hutannya tepat pada waktunya. Semua telah terlepas
dari perjanjian antara dia dan temannya. Kini semua beban hidup tertumpu pada
bagaimana agar istrinya dapat sembuh. “aku ingin ketenangan, aku ingin
pertolonganmu ya Rabb, ku tumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu ya Allah,
bisa saja dokter mefonis dengan analisanya, tapi engkaulah yang maha kuasa atas
segala sesuatunya. Engkau yang menggenggam semua takdir. Aku mohon obat dan
kesembuhan untuk istriku” matanya tak dapat menampung bendungan hebat.
Sudah
berbulan-bulan meera dirawat dan keadaannya semakin kurus. Ahsan tak sanggup
melihat keadaan meera. Dia bergegas kembali ke mesjid untuk melakukan do’a.
tiba-tiba suster memanggilnya. “bapa harus segera melihat keadaan istri bapa”
tuturnya. Tanpa pikir panjang. Ahsan langsung bergegas dan menghampiri istrinya
yang sekujur badan telah diselimuti. 2maaf, istri bapa telah tiada” sahut
dokter, tersentak perasaan ahsan kacau, bahkan menyalahkan diri sendiri.
Semakin tak sanggup melihat keadaan syahida yang menangis tanpa henti. “ini
surat dari istri bapa” dokter memberikan selembar kertas yang terbungkus dengan
amplop berwarna biru muda.
“untuk ayah dan syahida…………
Bunda sayang kalian, lebih dari apapun yang ada didunia, bunda
bangga punya ayah punya syahida yang cantik. Putri bunda, malaikat bunda. Tetap
menjadi sholehah ya nak ! menurut apa kata ayah, tetap agama nomer satu. Buat
ayah terima kasih telah menyelamatkan aku dari janji mu dengan temanmu, tapi
ini janji tuhan yang tak ada satupun dapat menolaknya . ayah mengerti maksud bunda “
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar