Kamis, 10 Maret 2016

CERITA PENDEK



 JANJI TUHAN
                                                      
Mengapa janji harus ditepati, ya karena janji adalah hutang dan setiap yang berhutang wajib untuk membayar. Uang dibayar uang, tenaga di bayar tenaga, begitu pula dengan nyawa harus dibayar nyawa. Ahsan telah berjanji untuk memberikan istrinya jika ia tak dapat membayar semua hutangnya. Walau dengan perasaan ragu, ahsan yakin dapat menyelamatkan istrinya dari perjanjian tersebut.
“ayah aku mau berangkat sekolah” kata syahida putri satu-satunya. “iya nak, ayah boleh minta tolong ?” jawab ahsan. “ayah mau apa, pasti syahida turuti” jawabnya dengan penuh keceriaan. “ayah mau minta tolong ya syahida ayah kasih uangRp 30.000 untuk satu minggu sanggup ?” tuturnya kembali. “mana bisa ayah, belum ongkos ojek sama jajan syahida” jawabnya dengan wajah cemberut. “tadi syahida janji mau lakuin apa aja buat ayah” jawabnya kembali. “yaudah syahida mau, tapi kalau syahida ga sanggu jangan dilanjutin ya ayah” pintanya. “syahida pasti sanggup” jawab nya kembali.Ahsan hanya ingin mengatur keuangan yang semakin menipis, dia memberikan pengertian terhadap anaknya dengan melatih putri cantinya itu untuk menggunakan uang hanya untuk yang penting saja.
Pagi minggu yang cerah, mereka berlibur untuk menyenangkan hati syahida. Namun ahsan tak lupa memberi uang jajan untuk satu minggu kedepan. Saat mereka sedang menikmati liburan tiba-tiba dikagetkan dengan datangnya seorang kakek tua renta yang menghampiri mereka sambil memelas, tak tega melihat kakek tua yang memelas, syahida langsung saja mengeluarkan uang Rp. 30.000 dan memberikan kepada kakek tua tersebut. Kontan saja kakek pengemis tersebut terlihat sangat senang seraya mengucapkan syukur dan terimakasih kepada syahida dan ayah bundanya, setelah kakek tua itu berlalu, “kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu, satu lembar saja kan cukup untuk memenuhi kebutuhannya hingga nanti malam ?” tanya bundanya yang cantik jelita bernama meera. “bunda, kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit, maka aku juga ikhlas untuk memberikan yang lebih besar” jawab syahida dengan tersenyum. TEKK !! Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut. “nah ! terus uang jajan syahida untuk seminggu kedepan bagaimana?” tanya ahsan. “kan aku masih punya ayah dan bunda, tidak seperti kakek tadi yang mungkin hanya sebatangkara” balas syahida. “loh syahida yakin banget kalau ayah bunda mau mengganti uang jajannya, ayah gak janji lo” jawab ahsan dengan kembali menguji anaknya. “ayah bunda pernah bilang kalau syahida titipan Allah, maka aku yakin ayah bunda tak akan pernah membiarkan aku kelaparan seperti kakek tadi” sahutnya sambil tersenyum. Seakan ayah dan bundanya tersentak mendengar jawaban syahida mereka tak dapat berkata-kata. Lalu ahsan berjongkok dan memegang kedua pundak syahida “sayang, ayah bunda janji akan selalu menjaga merawatmu hingga Allah ta’ala tetapkan batas umur ini. Ayah bunda sangat menyayangi syahida lebih dari apa pun yang ada didunia” sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah-olah tak kuat menahan haru. “ayah gak perlu bilang begitu, sejak dulu syahida tau ayah bunda sangat sayang syahida. Mulai sekarang hingga ayah bunda menua nanti syahida gak akan biarkan ayah bunda hidup dijalanan seperti kakek tadi” jawabnya sambil menangis tak henti. Mendengar itu ahsan dan meera tak terbendung menahan air mata.
                                    ***
Tiba-tiba terdengar dering telpon yang berada di atas mejanya, “ayah, bunda mimisan nih” terdengar suara yang tak asing lagi baginya, ya suara meera mengeluh. “mungkin karena cuaca yang sangat terik ini bun, jadi kesehatan bunda terganggu. Coba bunda istirahat dulu sebentar lagi ayah pulang” sahut ahsan menenangkan meera dan dia sarankan untuk segera ke dokter.
Beberapa hari kemudian istrinya sakit pilek. Seperti biasa jika sakit ia hanya meminim obat warung dan jarang sekali mau periksa ke dokter. “oalah bunda kedokter aja kok takut” ledeknya. “bunda Cuma gak suka, sudah di suntik malah dikasih obat lagi” jawabnya memelas. Dua minggu berselang tapi pileknya belum juga hilang, malah meera mengadu ada yang terasa menyumbat disaluran hidungnya, rasanya tak nyaman dan susah bernafas. “bun, besok kita kerumah sakit ya, biar ayah izin masuk siang” pinta ahsan sambil memeluknya. Meera pun menurut permintaan suaminya. Lagi pula ia juga takut kalau penyakit ini sangat mempengaruhi kesehatannya kedepan.
Keesokan harinya ahsan mengajak meera ke rumah sakit, saat itu dokter mengatakan istrinyaalergi pada debu dan juga bulu-bulu binatang. Setelah diperiksa dan dibri obat ahsan dan meera pun pulang untuk menemui syahida yang sejak tadi sendiri dirumah.
            Sampai obat pemberian dokter pun habis namun pileknya belum juga ada tanda-tanda kesembuhan. Anehnya yang sering keluar lendir hanya hidung sebelah kiri saja, bahkan meera sekarang susah bernafas melalui hidung, ia hanyabisa bernafas melalui mulut, dan ketika ahsan membawanya kembali kerumah sakit, dokter menyarankan untuk rontgen. Namun dari hasil rontgen tidak terlihat adanya kelainan apapun dihidung istrinya.
                                                ***
            Terlihat diujung jalan, dua lelaki yang tak asing dimamta ahsan. Ya itu dio dan rabe, sahabat ? teman ? bukan. “hahaha bagaimana ahsan ? sudah siap, tersisa tiga bulan” tutur dio. “aku akan bayar dengan uang, bukan dengan istriku” jawab ahsan dengan penuh emosi. “baguslah, tapi aku tidak yakin” kembali rabe menjawab sambil dengan tatapan tajam.  Setelah itu mereka berlalu dan ahsan pun bergegas pulang memastikan bahwa anak istrinya tidak terjadi apa-apa.
            “ayah hari ini kita harus kontrol keadaanku lagi” tutur istrinya. “iya bun, sebentar lagi kita bersiap” sahut ahsan. “ayah bunda, syahida ikut” tutur syahida sambil memelas. “iya sayang” sahut meera. Mereka pun bergeges, sesampainya di rumah sakit dokterpun memeriksa. Setelah beberapa jam dokter pun keluar dari ruang prakteknya dan memebawa foto CT scan. Dokter menunjukan hasilnya, nampak ada sebuah massa diantara belakang hidung dan tenggorokan meera. “ini positif bu” tutur dokter. “maksudnya dok” jawab meera yang tak mengerti medis. “ibu positif kanker” sahut dokter . DEK!! Tiba-tiba mata meera menjadi gelap, sebuah beban berat terasa menindih badannya. Meera terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, lama meera terdiam. Raut wajah ahsan pun berubah seketika. “kanker” sebuah kata terlintas dibenak meera, kata yang selama ini hanya dikenalnya lewat informasi sosial media. “ayah kenapa menangis” tanya meera. “iya, ayah sayaaaang bunda” suara ahsan bergetar. Ahsan mengusap lembut kepala istrinya, ditepisnya perlahan tangan meera yang mencoba untuk menusap air matanya. “kenapa wajah bunda tenang, apa bunda sudah tau penyakit ini” tanya ahsan sambil menangis. “ini janji bunda kepada tuhan ayah “ jawabnya dengan tenang.
                                                ***
            Ahsan semakin bekerja keras dan semua tak sia-sia, dia dapat membayar hutannya  tepat pada waktunya. Semua telah terlepas dari perjanjian antara dia dan temannya. Kini semua beban hidup tertumpu pada bagaimana agar istrinya dapat sembuh. “aku ingin ketenangan, aku ingin pertolonganmu ya Rabb, ku tumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu ya Allah, bisa saja dokter mefonis dengan analisanya, tapi engkaulah yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau yang menggenggam semua takdir. Aku mohon obat dan kesembuhan untuk istriku” matanya tak dapat menampung bendungan hebat.
            Sudah berbulan-bulan meera dirawat dan keadaannya semakin kurus. Ahsan tak sanggup melihat keadaan meera. Dia bergegas kembali ke mesjid untuk melakukan do’a. tiba-tiba suster memanggilnya. “bapa harus segera melihat keadaan istri bapa” tuturnya. Tanpa pikir panjang. Ahsan langsung bergegas dan menghampiri istrinya yang sekujur badan telah diselimuti. 2maaf, istri bapa telah tiada” sahut dokter, tersentak perasaan ahsan kacau, bahkan menyalahkan diri sendiri. Semakin tak sanggup melihat keadaan syahida yang menangis tanpa henti. “ini surat dari istri bapa” dokter memberikan selembar kertas yang terbungkus dengan amplop berwarna biru muda.


“untuk ayah dan syahida…………
Bunda sayang kalian, lebih dari apapun yang ada didunia, bunda bangga punya ayah punya syahida yang cantik. Putri bunda, malaikat bunda. Tetap menjadi sholehah ya nak ! menurut apa kata ayah, tetap agama nomer satu. Buat ayah terima kasih telah menyelamatkan aku dari janji mu dengan temanmu, tapi ini janji tuhan yang tak ada satupun dapat menolaknya . ayah  mengerti maksud bunda “
                                                   
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar