Kamis, 31 Maret 2016

RESUMAN “MENULIS SEBAGAI KETERAMPILAN BERBAHASA” oleh Dr. Henry Guntur Tarigan



RESUMAN
 “MENULIS SEBAGAI KETERAMPILAN BERBAHASA”
oleh Dr. Henry Guntur Tarigan

Bab 1
 PENDAHULUAN

1.  Keterampilan Berbahasa : Komponen-komponenya
Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen yaitu :
·        Keterampilan menyimak.
·        Keterampilan berbicara.
·        Keterampilan membaca.
·        Keterampilan menulis.
Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir.

2.  Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini maka sang penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur.
a.    Hubungan antara menulis dan membaca.
Antara menulis dan membaca terdapat hubungan yang sangat erat. Bila kita menuliskan sesuatu, maka pada prinsipnya kita ingin agar tulisan itu dibaca oleh orang lain; paling sedikit dapat kita baca sendiri pada saat lain. Demikianlah hubungan antara menulis dan membaca pada dasarnya adalah penulis dan pembaca. Tugas sang penulis adalah mengatur/menggerakkan suatu proses yang mengakibatkan suatu perubahan tertentu dalam bayangan/kesan sang pembaca. Khusus mengenai menulis, kualifikasi yang dituntut adalah sebagai berikut :
·        Kuallifikasi Minimal.
Mampu menulis dengan tepat kalimat-kalimat atau pun paragraf-paragraf seperti yang akan dikembangkan secara lisan bagi situasi-situasi kelas, dan menulis surat sederhana yang singkat.
·        Kualifikasi Baik.
Mampu menulis “komposisi bebas” yang sederhana dengan kejelasan dan ketepatan dalam kosa kata, idiom, dan sintaksis.
·        Kualifikasi Unggul.
Mampu menulis beraneka ragam pokok pembicaraan (subyek) dengan idiom yang wajar, ekspresi yang cerah serta mudah dipahami, dan perasaan yang tajam terhadap gaya bahasa yang beraneka ragam dalam bahasa target.
b.    Hubungan antara menulis dan berbicara.
Kedua-duanya memiliki ciri yang sama yaitu produktif dan ekspresif. Perbedaannya ialah bahwa dalam menulis diperlukan pendengaran dan pengucapan. Dengan perkataan lain, menulis merupakan komunikasi tidak langsung, tidak tatap muka, sedangkan berbicara merupakan komunikasi langsung komunikasi tatap muka. Baik menulis maupun berbicara harus memperhatikan komponen-komponen yang sama, yaitu :struktur kata/bahasa, kosa kata, kecepatan/kelancaran umum; bedanya ialah bahwa menulis berkaitan dengan ortografi, maka berbicara berkaitan erat dengan fonologi.


3.  Menulis Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi.
Setiap penuois atau pengarang mempunyai pikiran atau gagasan yang ingin disampaikan atau diturunkan pada orang lain. Dalam hal ini dai harus menterjemahkan ide-idenya kedalam sandi-sandi tulis. Sang pengarang memanfaatkan sejumlah sarana mekanis untuk merekam sandi tulis tersebut. Setelah selesai perekaman itu maka maka dapatlah diteruskan atau disebarkan kepada orang lain (dalam hal ini para pembaca) melintasi waktu dan ruang. Pikiran atau gagasan sang penulispun sampailah ke pihak pembaca. Pembaca melihat tulisan tersebut. Dia menterjemahkan sandi tulis itu ke dalam sandi lisan kembali dan mendapatkan sarta menemui kembali pikiran atau gagasan sang penulis. Akhirnya sang pembaca memahami pikiran atau gagasan tersebut.

4.  Batasan, Fungsi, Tujuan Menulis
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Gambar dan lukisan mungkin dapat menyampaikan makna-makna, tetapi tidak menggambarkan kesatuan bahasa. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan ekspresi bahasa. Hal ini merupakan perbedaan utama antara lukisan dan tulisan, antara melukis dan menulis. Melukis gambar bukanlah menulis. Penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan itu adalah :
·        Maksud dan tujuan sang penulis,
·        Pembaca atau pemirsa,
·        Waktu atau kesempatan.
Sehubungan dengan “tujuan” penulisan sesuatu tulisan, maka Hugo Hartig merangkumkan sebagai berikut :
·        Assigment purpose (tujuan penugasan)
·        Altruistic purpose (tujuan altruistic)
·        Peruasive purpose (tujuan persuasif)
·        Informational purpose (tujuan informational)
·        Selt-expressive (tujuan pernyataan diri)
·        Creative purpose (tujuan kreatif)
·        Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah).

5.  Ragam Tulisan
Ragam tulisan dilihat dari bentuknya
·        Bentuk-bentuk obyektif.
·        Bentuk-bentuk subyektif.
·        Eksposisi.
·        Deskripsi.
·        Narrasi.
·        Argumentasi.
·        Tulisan ekspositoris.
·        Tulisan kreatif.
·        Persuasi.
·        Argumentasi.

Bab 2
TULISAN BERNADA AKRAB

1.  Tulisan Pribadi
Tulisan pribadi adalah suatu bentuk tulisan yang memberikan sesuatu yang paling menyenangkan dalam penjelajahan diri pribadi sang penulis. Hanya catatan atau laporan pribadi yang terbuka sajalah yang dapat menangkap kembali atau merekam secara tepat apa-apa yang telah kita rasakan atau alami pada masa lalu. Di samping kegunaan sesuatu laporan tertulis, maka perlu kita sadari bahwa peranan yang paling penting dari menulis adalah nilainya itu sendiri.

2.  Ciri-ciri Tulisan Pribadi
Tulisan pribadi adalah suatu pernyataan dari gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai pengalaman-pengalaman kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita sendiri ataupun bagi kepentingan dan kenikmatan sanak keluarga atau sahabat karib. Tulisan pribadi dapat berbentuk suatu :
·        Buku harian (diary)
·        Catatan harian, jurnal (journal)
·        Cerita tidak resmi (informal narrative)
·        Surat (letter)
·        Puisi (poem)

3.  Bentuk-bentuk Tulisan Pribadi
Berdasarkan bentuknya, tulisan pribadi dapat diklasifikasikan atas :
·        Buku/catatan harian :jurnal (journal)
·        Cerita yang bersifat otobiografis (autobiographical narrative)
·        Lelucon yang bersifat otobiografis (autobiographical annecdote)
·        Esei pribadi (personal essay)Catatan harian (jurnal)
Menata sebuah buku harian mungkin merupakan suatu cara yang sangat baik bagi kita untuk melatih diri menulis dalam suatu nada yang bebas serta tulus, tetapi kita mungkin saja merasa enggan memperlihatkan pikiran-pikiran pribadi tersebut kepada orang lain – untuk mendapatkan saran-saran mengenai menulis.

4.  Catatan Harian (Jurnal)
Dalam buku harian kita merupakan pokok pembicaraan, kita menjadi pembaca atau penikmat kita sendiri.

5.  Cerita Otobiografi
Pembicaraan mengenai cerita otobiografi (atau dengan dalam bahasa Inggris autubiographical narrative) ini dititikberatkan pada tiga hal :
·        Makna dan ciri-ciri.
·        Teknik-tekni penulisan.
·        Beberapa petunjuk menulis  cerita otobiografis.

6.  Lelocon Otobiografis
Lelocon adalah suatu cara untuk menimbulkan gelak tawa. Dalam lelocon otobiografi yang menjdai obyek leloconnya adalah diri kita sendiri.

7.  Esai Pribadi
Esai pribadi adalah pengalaman pribadi “berbicara mengenai” bukan hanya sekedar “menceeritakan” atau “mengatakan”.

8.  Siasat Perbaikan Tulisan Pribadi
Cara yang tepat guna untuk memperbaiki atau merevisi sepenggal tulisan tertentu adalah merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan khusus perencanaan tulisan tersebut.

Bab 3
TULISAN BERNADA PENERANGAN

1.  Tujuan Tulisan Bernada Penerangan
Biasanya nada tulisan yang seperti ini bersufat informatif, bernada memberi peneranga kepada orang lain. Dan nada informasi ini biasanya menghasilkan tulisan yang bersifat deskriptif.

2.  Ragam Tulisan Peremian (Deskripsi)
Dari bentuknya dibedakan:
·        Pemerian faktual.
Pemerian faktual beranggapan bahwa subtansi-subtasi material atau hakekat-hakekat kebendaan ada dalam keberadaan yang bebas dari yang melihatnya.
·        Pemerian pribadi.
Dalam pemerian-pemerian pribadi, yang didasarkan pada responsi kita terhadap obyek-obyek, suasana-suasana, situasi-situasi, dan pribadi-pribadi, kita berusaha membagikan pengalaman-pengalaman kita kepada para pembicara agar dapat dinikmati bersama-sama, dengan harapan dapat menciptakannya kembali dan dengan demikian menimbulkan responsi yang sama.

3.  Perbedaan antara Pemerian Faktual dan Pemerian Pribadi.
Perbedaan antara pemerian faktual dengan pemerian faktual agaknya dapat dinamakan degan perbedaan yang terdapat antara gambar foto dengan gambar lukisan. Walaupun si tukang foto berusaha memilih sudut pandangan, cahaya,komposisi, pembukaan lensa, dan kecepatan membidik dengan sebaik-baiknya dan dengan secepat-cepatnya, tetapi kebebasan mereka terbatas:menggambarkan subyek atau sasaran seperti adanya kepada kebanyakan orang. Pemerian faktual kebebasan dalam menggambarkan dibatasi oleh subyek sedangakan pemerian pribadi mereka bebas dalam menggambarkan tidak dibatasi oleh apapun.
4.  Beberapa Petunjuk Menulis Pemerian.
Pemerian faktual.
Susunan: mempunyai aturan tertentu sehubungan dengan tempat dan ruang, logis, konsiten, tetap.
Gaya: tidak perlu menarik perhatian para pembaca, bahasa digunakan sederhana.
Nada: formal
Pemerian pribadi.
Susunan: disusun berdasarkan, ruang, waktu dan tempat, statis.
Gaya: harus menarik perhatian, bahasa yang digunakan menarik, rinci dalam menggambarkan.
Nada: penuh perassan, terdengar jelas.

5.  Pemerian orang.
Isinya merupakan gambaran dari orang lain, identitas orang lain dan pengalaman orang lain.

Bab 4
 TULISAN BERNADA PENJELASAN

1.  Makna dan Tujuan Tulisan Bernada Penjelasan
Makna dari tulisan bernada penjelasan ini bersifat eksposisi sebagai tulisan informatif tulisan yang bernada penerangan. Tujuan dari tulisan bernada penjelasan ini adalah memberi penjelasan atau pemahaman kepada pembaca.

2.  Pokok Permasalahan dan Pembaca
Pokok permasalahan yang harus ditulis adalah sesuatu yang ingin diketahui oleh pembaca, adapun hal yang harus diperhatikan adalah daya penarik, luas, kerumitan.

3.  Bentuk-bentuk Tulisan penyingkapan
Diklasifikasikan sebagai berikut:
·        Klasifikasi.
·        Definisi.
·        Analisi.
·        Opini.

4.  Susunan Tulisan Penyingkapan
Diarahkan pada dua hal, yaitu:
·        Pentingnya susunan logis dalam tulisan penyingkapa.
·        Langkah-langkah pengembangan tulisan logis.
-         Mencari judul.
-         Membatasi judul.
-         Merumuskan pernyataan tesis.
-         Mengembangkan suatu bagan/skema organisasi.

5.  Bentuk Paragraf Penyingkapan
·        Komponen-komponen paragraf.
-         Judul
-         Pembatasan
-         Uraian.
·        Pengembangan paragraf.
·        Jenis paragraf.
-         Paragraf peraliahan
-         Paragraf penekanan.
·        Gerakan paragraf.
-         Urutan setara
-         Urutan bertingkat
-         Urutan campuran
-          
6.  Pendahuluan dan Kesimpulan pada Tulisan Penyingkapan.
Penulisan pendahuluan memuat:
·        Menarik minat pembaca.
·        Menyatakan tesis .
·        Memilih nada.
·        Menentukan sudut pandang.
Penulisan kesimpulan:
·        Sebagai penutup atau rangkuman.
·        Menyajikan hal-hal yang penting diingat oleh pembaca.

Bab 5
TULISAN BERNADA MENDEBAT

1.  Tulisan yang Bersifat Meyakinkan
Tulisan yang bernada mendebar biasanya berbentuk arguemtasi sedangkan tulisan bersifat meyakinkan berbentuk persuasif.
2.  Persuasi Logis
Persuasi logis atau argumentasi biasanya dipergunakan pada situasi-situasi perdebatan-perdebatan pada pengadilan dan menbahas hal-hal penting dan ramai dibicarakan.
3.  Penalaran Keliru
Diklasifikasikan menjadi:
·        Kekeliruan logis.
-         Peniruan.
-         Tidak masuk akal.
-         Mengemis masalah.
-         Atau.
·        Kekeliruan emosional.
-         Tuntutan terhadap seseorang.
-         Tuntutan terhadap orang-orang.
-         Penyebutan nama.
-         Generalitas yang megah.
-         Tuntutan populer.

Bab 6
TULISAN BERNADA MENGKRITI
Tulisan yang bernada mengkritik menghasilkan tulisan mengenai sastra.

1.  Peranan Penulis Sastra.
·        Penulis sebagai pengolah cerita.
·        Penulis sebagai penulis cerita.
·        Penulis sebagai pimpinan.

2.  Tokoh
Fungsi tokoh adalah untuk memerankan dan menhidupkan cerita. Jenis tokoh meliputi tokoh utama, penunjang dan latar belakang. Ciri tokoh tergantung cerita yang melatar belakanginya.

3.  Alur.
Unsur alur meliputi:
·        Situasai atau keadaan.
·        Peristiwa yang bersangkut-paut dan bergerak.
·        Peristiwa mulai memuncak.
·        Peristiwa mencapai klimaks.
·        Pemecahan atau penyelesaian peristiwa.
Jenis alur sebagai berikut:
·        Alur gerak.
·        Alur pedih.
·        Alur tragis.
·        Alur penghukuman.
·        Alur sinis.
·        Alur sentimental.
·        Alur kekaguman.
·        Alur kedewasaan.
·        Alur perbaikan.
·        Alur pengujian.
·        Alur pendidikan.
·        Alur pembukaan rahasia.
·        Alur perasaan sayang.
·        Alur kekecewaan.
Evaluasi alur memiliki faktor:
·        Pembayangan.
·        Kepercayaan pada kesempatan.
·        Keterpercayaan pada kesatuan.
·        Kemasukakalan akhir cerita.

4.  Latar
Latar adalah lingkungan fisik tempat terjadinya kejadian dalam sebuah cerita.

5.  Waktu
Jenis urutan waktu dalam suatu cerita:
·        Secara kronologis.
·        Sorot balik.

6.  Tema
Tema merupakan gagasan atau pikiran pokok pada cerita.

7.  Tekhnik
Ironi atau gaya bahasa
·        Paradoks atau bertentangan
·        Simbolisme
·        Metafora

Bab 7
 TULISAN BERNADA OTORITATIF
Tulisan bernada otritatif biasanya berbentuk karya ilmiah.
Adapun tahap-tahap penulisannya sebgai berikut:
·        Memilih topik
·        Membabaca pendahuluan
·        Menentukan bibliografi pendahuluan
·        Membuat kerangka pendahuluan
·        Membuat catatan
·        Menyusun kerangka akhir
·        Menyusun naskah pertama
·        Mengadakan revisi
·        Menyusun naskah akhir.
·        Mengoreksi cetakan percobaan.